Artikel

Ramadhan adalah Bulan Revolusi Mental yang Sesungguhnya

Oleh: Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc.

Dalam sejarah, setiap menjelang bulan Ramadhan Rasulullah saw selalu mengingatkan kepada umatnya dengan bersabda yg artinya : “Telah datang kepada kalian syahrul mubarok (bulan yang diberkahi)”.

Bulan Ramadhan adalah bulannya bagi orang-orang yang taqwa.
Yakni yang beriman dan selalu menegakkan aturan Allah. Yakni menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangamNya dgn didasari dengan keimanan yang full (benar dan kokoh).

Bahkan negeri yg dijanjikan akan diberkahi Allah adalah yang penduduknya selalu beriman dan bertaqwa

Dalam surat al a’raf : 96

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

walau anna ahlal-qurooo aamanuu wattaqou lafatahnaa ‘alaihim barokaatim minas-samaaa`i wal-ardhi wa laaking kazzabuu fa akhoznaahum bimaa kaanuu yaksibuun

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Dan ketaqwaan itu jelas ukurannya yakni komitmen keyakinannya dalam mengikuti petunjuk Allah, yang diturunkan oleh Allah yaitu Al Qur’an yang awal turunnya di bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

syahru romadhoonallaziii unzila fiihil-qur`aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa man syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au ‘alaa safarin fa ‘iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-‘usro wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirulloha ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Mengapa bangsa kita ini terus terombang-ambing dalam kebimbangan, ketidakjelasan? Mau pilih walikota, bupati, gubernur, presiden, dan dalam urusan politik, semuanya bingung, gak jelas?. Jawabannya karena komitmen terhadap panduan Allah dalam menjalankan kehidupan ini masih belum kokoh dan belum sepenuhnya. Bahkan masih banyak orang yang ngaku Islam tapi phobi, takut kepada penegakan syariat aturan Allah.

Bulan ramadhan juga bulan jihad. Bahkan perang pertama dalam Islam yakni perang badar, terjadi di bulan Ramadhan. Perang yang dalam rangka mempertahankan diri dari permusuhan dan serangan kaum kafir, musyrikin yang tidak seimbang jumlahnya dengan kondisi dan jumlah kaum muslimin.

Bulan ramadhan juga bulan penaklukan kota Mekah secara damai. Tidak ada dendam dan permusuhan, tidak ada darah yang tertumpah akibat peperangan, kecuali hanya beberapa orang yang memang sangat memusuhi agama Allah, sampai detik terakhir pada saat futuh Mekah tersebut.

Penaklukan Baitul Maqdis juga terjadi di bulan Ramadhan ketika kekhalifahan Islam dipimpin oleh Umar bin Khathab. Sehingga bulan ramadhan itu adalah bulan perjuangan dan bulan kemenangan.

Juga kemerdekaan bangsa kita ini (bangsa Indonesia) terjadi di bulan Ramadhan, yang semuanya ini atas berkah dan Rahmat Allah. Bagaimana mungkin umat Islam di Indonesia saat ini bahkan tdk mau menyadari dan mensyukurinya dengan tunduk, patuh dan taat kepada aturan syariat Allah? Yang ada malah mencibir dan menolak ditegakkannya syariat Allah?

Bulan Ramadhan adalah bulan yang siang harinya Allah perintahkan utk berpuasa, dalam rangka memperkuat kesabaran, ruh perjuangan, dan memperjuangkan kasih sayang, yg mana sebagai bentuk ujian yg dapat mempercepat datangnya pertolongan Allah.

Banyak kisah yang ternyata Allah memberikan pertolongan itu kepada orang yang mampu menahan lapar dan haus.

Seperti kisah Thalut yg harus menghadapi Jalut, dimana ketika para pengikut thalut diberi ujian dengan kehausan dan melewati sungai Tigris yg jernih. Thalut sdh membuat instruksi kepada pengikutnya untuk tidak tertipu dengan banyak meminum air yang sangat jernih itu, karena menyebabkan menjadi lemah tak berdaya.

Maka bulan Ramadhan adalah juga bulan pelatihan kesabaran dalam menghadapi segala bentuk kesulitan. Yakni kesulitan lapar, kesulitan harus tetap berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, kesulitan dalam mempertahankan kekuatan iman (keyakinannya) agar tidak terbeli dengan tipu daya materi dunia.

Bulan Ramadhan adalah bulan revolusi mental yang sesungguhnya, yakni revolusi mental seperti yang diajarkan dan diwariskan oleh Rasulullah Saw yakni yang berkomitmen terhadap syariat Allah.

Karena itu bulan ramadhan juga bulan yang harus dimanfaatkan untuk perjuangan politik Islam, agar dapat melahirkan pemimpin-pemimpin Islam dari golongan orang beriman yang berpihak kepada kemajuan umat, bangsa dan membela negara dari segala bentuk penjajahan, penjarahan serangan dari bangsa lain.

Kita harus manfaatkan bulan Ramadhan untuk melakukan dakwah perubahan dari segala aspek kehidupan, baik yang berdimensi pribadi, keluarga, sosial dan dalam berbangsa dan bernegara. ***

Disampaikan pada Pengajian rutin Sabtu Sore ba’da Ashar di Masjid Al Hijri 2 Kampus UIKA
Dicatat oleh Ustadz Willyuddin A.R. Dhani

Ed : amre

Comments
To Top