Artikel

Pendidikan Ramadhan

Oleh : Dr. Syarif Hidayat, M.Pd. (Wakil Ketua II Dewan Da’wah Jawa Barat)

Ada satu hal yang seyogianya kita renungkan seiring selesainya bulan Ramadhan yang lalu, yaitu evaluasi perjalanan ibadah shaum tiga puluh hari yang baru saja kita lewati. Hal ini sangat penting mengingat tidak setiap orang shaumnya diterima Allah Ázza wa Jalla. Rasulullah shallalláhu álaihi wa sallam bersabda demikian:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ». – سنن ابن ماجه ت الأرنؤوط (2/ 591 رقم 1690) –

Dari Abu Hurairah – semoga Allah meridhainya – ia mengatakan, Rasulullah shallallãhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Betapa banyak orang yang shaum namun ia tidak memperoleh apapun dari shaumnya itu selain rasa lapar, dan betapa banyak pula orang yang melaksanakan qiyãmu Ramadhãn tetapi ia tidak memperoleh apa-apa dari qiyãmnya itu kecuali rasa lelah saja.” (H.R. Ibn Mâjah, dan dinyatakan shahîh oleh Syaikh Syu’aib al-Arnaûth)

Karena itu, tidak berlebihan bila rasa khauf (khawatir) menyertai hati kita setelah berlalunya Ramadhan 1440 H. supaya selalu waspada dan tidak terlena dengan kegembiraan Ídul Fitri secara berlebihan. Dalam hal ini ada baiknya ungkapan shahabat yang mulia, Ábdullah ibn Masúd kita renungkan ketika beliau berujar demikian:

وَأَخْرَجَ ابْنُ عَسَاكِر عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: لَأَنْ أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُ مِنِّي عَمَلًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ لِي مِلْأُ الْأَرْضِ ذَهَبًا. – التفسير المظهري (3/ 79) –

Ibn ‘Asãkir mengeluarkan (khabar) dari ‘Abdullãh ibn Mas’ûd, beliau berkata, “Sungguh bila aku mengetahui Allah menerima amal dariku, itu lebih aku sukai daripada memiliki emas sepenuh bumi.”

Mengapa beliau begitu hiperbola dalam mengungkapkan harapannya untuk diterima Allah atas amal yang telah diperbuatnya, karena Allah ternyata hanya menerima amal dari orang-orang yang mampu meraih derajat ketakwaan sebagaimana firman-Nya:

{قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ} [المائدة: 27]

“(Habi berujar), sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. al-Mãidah, ayat 27)

Kendati ayat di atas secara spesifik berkaitan dengan ibadah kurban namun karena susunan kalimatnya tidak menyebut maf’ûl bih atas kata “yataqabbalu” maka tidak berlebihan jika ayat inipun berkaitan dengan ibadah shaum dan ibadah yang lainnya.

Jadi, ketakwaan yang menjadi target dalam perintah ibadah shaum sebagaimana termaktub di dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183 sejatinya merupakan target yang mesti diraih oleh seorang yang mengerjakan ibadah shiyâm. Artinya, ketika seorang shâim (yang menunaikan ibadah shaum) tidak mencapai derajat takwa, maka hal itu menjadi pertanda yang sangat jelas akan kesia-siaan amalnya.

Ibadah shaum, dengan demikian, harus berbuah ketakwaan bagi para pelakunya yang memang akan dirasakan oleh mereka semua. Ketakwaan yang digambarkan shahabat Ubay ibn Kaáb saat ditanya Úmar ibn al-Khaththab radhiyallâhu ánhu sebagai sikap waspada dan kesungguhan sebetulnya amat relevan dengan pendidikan shaum selama sebulan yang lalu.

Dialog Ubay ibn Kaáb radhiyallâhu ánhu dengan Amîr al-Mu`minîn, Umar ibn al-Khaththab, itu dapat disimak di dalam Tafsir Ibn Katsir ketika menerangkan surah al-Baqarah ayat kedua.

وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، سَأَلَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ عَنِ التَّقْوَى، فَقَالَ لَهُ: أَمَا سَلَكْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟ قَالَ: بَلَى قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ؟ قَالَ: شَمَّرْتُ وَاجْتَهَدْتُ، قَالَ: فَذَلِكَ التَّقْوَى.

Disebutkan bahwa ‘Umar ibn al-Khaththab – semoga Allah meridhainya – bertanya kepada Ubay ibn Ka’ab mengenai takwa maka beliau (Ubay ibn Ka’ab) balik bertanya, “Apakah Anda pernah melintasi sebuah jalan penuh dengan duri?” ‘Umar pun menjawab, “Tentu pernah!” Lalu Ubay kembali bertanya, “Apa yang Anda lakukan?” ‘Umar menjawab, “Aku sungguh-sungguh dan berhati-hati.” Maka Ubay berujar, “Itulah sejatinya takwa!”[1]

Kehati-hatian sikap laksana orang yang melintas jalan penuh duri, dapat diraih seorang shâim di kala menunaikan shaumnya dengan benar. Ia tidak berani bersikap curang dalam shaumnya. Ketika di rumahnya tidak ada siapa-siapa, umpamanya, ia tetap bersikap jujur dan tidak mau melanggar, padahal peluang dan kesempatan ada namun ia tidak melakukannya sebab perasaan muraqabatulláh (merasa diawasi Allah) begitu terasa kuat dalam dada. Inilah

Salah satu pendidikan shaum yang berhasil membuat orang menjauhi perbuatan tercela. Dan, ini pula yang disebut sikap takwa kepada Allah Ázza wa Jalla.

Makanya, úlama kemudian menjelaskan hakikat ketakwaan seraya merujuk hadits riwayat al-Tirmidzi bahwa ketakwaan bisa diraih ketika seseorang mampu menjauhi suatu perkara yang dikhawatirkan menjadi perantara perbuatan dosa. Rasulullah shallalláhu álaihi wa sallam bersabda demikian:

عَنْ عَطِيَّةَ السَّعْدِيِّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ. – سنن الترمذي (8/ 490 رقم 2375) –

Dari ‘Athiyah al-Sa’diy, bahwasanya di antara shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang hamba takkan masuk ke derajat orang-orang yang bertakwa sehingga ia meninggalkan apa yang tidak berdosa dikarenakan khawatir terjerumus ke dalam dosa.” (H.R. Tirmidzi, namun sayang hadits ini dinilai dha’îf [lemah] oleh Syaikh Nashir al-Din al-Albaniy rahimahulláh)

Umumnya orang melakukan maksiat karena dorongan syahwat dan syubhat. Dengan ibadah shaum kedua penyakit tadi bisa dikendalikan sehingga timbul sikap wara` sebagai implementasi ketakwaan buah dari ibadah shaumnya. Namun seringkali semangat wara`seperti ini hanya sebatas Ramadhan saja. Tidak sedikit orang yang lali ketika lepas dari ibadah shaum Ramadhan sehingga mereka alih-alih mewujudkan ketakwaan melainkan justru kembali terjerumus ke jurang kemaksiatan dan dosa. Padahal, jika kita mau membawa sikap muraqabatullah, hasil didikan shaum, ke luar Ramadhan niscaya kita akan menjelma makhluk baru yang lebih senang berbuat baik dan berat melakukan dosa. Sayang, hanya sedikit yang mampu meraih derajat tersebut, maka pantas di muka disebutkan bahwa banyak orang berpuasa hanya meninggalkan lapar dan dahaga semata, tak lebih tak kurang.

Oleh karena itu, akhirnya amat tepat bila kita bersikap seperti úlama salaf yang senantiasa dan berdoa kepada Allah untuk diterimanya amal Ramadhan seraya mengevaluasi keberhasilan ibadah shaum sepanjang enam bulan ke depan sebagaimana diutarakan Imam Ibn Hanbal Hanbali rahimahulláh di dalam Lathâif al-Ma’ârifnya.

قَالَ مَعْلَى بْنُ الْفَضْلِ: كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ (وَ) يَدْعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ. – لطائف المعارف لابن رجب (ص: 148) –

Ma’la ibn al-Fadhl mengatakan, mereka (orang-orang terdahulu) berdoa kepada Allah Taála selama enam bulan supaya disampaikan ke Ramadhan, dan berdoa selama enam bulan agar amal mereka diterima Allah Taálá.

Semoga amal kita diterima Allah meskipun banyak kekurangan. WalhamdulilLâh!

[1] Abu al-Fida`Ibn al-Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Adzîm, Beirut: Dár al-Fikr, 1994, Vol. I, hlm. 55.

(Disampaikan pada Khutbah Ídul Fitri 1 Syawwal 1440 H./ 5 Juni 2019 di Halaman Parkir Pintu Barat Stasiun Besar PT. KAI Jln. Mayor Oking Bogor Tengah.)

Comments
To Top