Nasional

Kapolri Kunjungi Dewan Dakwah untuk Jelaskan Pidatonya

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengunjungi kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Jalan Kramat Raya 45 Jakarta Pusat (7/2/2017). Kapolri dan pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menggelar pertemuan tertutup.

Kapolri Tito datang dengan memakai baju koko, celana hitam, dan peci. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal, Karo Provos Brigjen Refdi Andri, dan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu ikut mendampingi.

Kedatangan Tito disambut Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia KH Mohammad Sidik dan jajarannya di pelataran gedung pertemuan. Tito lantas menyalami satu per satu sambil mengembangkan senyumnya. Setelah itu, Tito bersama rombongan dan pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menuju lantai dua gedung untuk melakukan pertemuan tertutup.

Polri sebelumnya mengatakan akan terus menjalin silaturahmi dengan ormas-ormas Islam. Silaturahmi itu untuk menyelesaikan masalah potongan video pidato Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang beredar soal ormas selain NU-Muhammadiyah.

“Sistem pendinginan ini, ini yang kami tunjukkan bahwa dalam konteks video, kami akan terus silaturahmi dengan semua pihak, terutama ormas-ormas Islam, para ulama, tokoh agama di seluruh Indonesia,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (1/2).

Iqbal menjelaskan Kapolri tak bermaksud menafikan kelompok-kelompok Islam di luar NU dan Muhammadiyah. Pidato Kapolri itu disebutnya tidak memojokkan.

Jenderal Tito pun sudah memberi penjelasan bahwa ada yang memotong pidatonya, soal ormas pendiri negara yang viral terjadi pada 2017 itu. Menurut Tito, pidatonya tersebut berdurasi sekitar 24 menit, tapi dipotong atau diedit menjadi 2 menit dan menyebabkan ada yang salah paham soal isi pidatonya.

Ia memberikan klarifikasi pada video yang sebenarnya berdurasi 26 menit itu, ia justru memberi kritikan dan juga dukungan ke NU dan Muhammadiyah. Kapolri mengimbau agar umat Islam yang berada di akar rumput jangan terpecah, dan jangan mendukung ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. “Saya memberi semangat dari kritikan kepada NU dan Muhammadiyah, yang dapat mengantisipasi masalah yang ada di grass root ini. Polri siap mendukung,” kata Tito.

Sebelumnya, pidato Tito sempat menjadi viral di media sosial. Polemik ini muncul ke permukaan setelah menuai protes dari Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Zulkarnain. Dalam akun Facebook-nya, Zulkarnain menilai pidato Tito seperti tidak menganggap perjuangan umat Islam di luar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia KH Mohammad Siddiq mengatakan pertemuan tersebut juga mengulas sektor keamanan menjelang pilkada 2018. Menurut dia, kepolisian perlu menjalin hubungan dengan semua ormas Islam. “Umat Islam bagian tak terpisahkan dan penting dalam negara dan bangsa kita ini,” ucapnya.

Siddiq memahami peristiwa viralnya potongan video pidato Tito yang sempat menuai polemik itu. “Kami memahami betul apa yang terjadi,” tuturnya. Dalam pertemuan tersebut, kata dia, Dewan Dakwah juga menilai pentingnya menjaga keamanan dalam negeri melalui media dakwah.

Pertemuan Tito dan Dewan Dakwah berlangsung sejak pukul 17.00 hingga 20.30. ***Amre/Detik/Tempo/Rol

Comments
To Top